Jumat, 01 Oktober 2021

Setahun Berdua

                  

                            "Selamat merayakan setahun berdua dalam relasi pacaran ini, *ian dan Cici.

    Tidak banyak foto-foto yang mewakili perjalanan kita setahun ini, tapi tidak apa-apa aku punya begitu banyak stok kata-kata yang tidak akan habis saat membayangkan kamu dan kita dalam relasi yang berharga ini. 

    Jauh sebelum kita bertemu, tiap hari Minggu saat ke gereja dan tiap aku berdoa. Aku meminta seseorang yang mudah dibentuk di dalam Tuhan dan aku menjadikan diriku juga untuk mudah dibentuk di dalam-Nya.

    Terima kasih untuk satu tahun ini, aku memang tidak mudah untuk kamu pahami. Terima kasih untuk semua hal tentangku yang kamu terima dan maklumi; keras kepalaku, moodku yang cepat  berubah, nada bicaraku yang pelan, bicaraku dengan kata-kata yang singkat dan kesibukanku yang seringkali lupa memberi kabar.

    Terima kasih karena selalu setia mendengarku bercerita walau itu akan berjam-jam dan membosankan.  Untuk mengarahkan alur ceritaku agar aku tetap berada di dalam struktur cerita yang ingin aku bangun, untuk apresiasimu yang paling pertama untuk segala ide-ideku dan untuk penerimaanmu untuk segala hal yang kurang baik di dalam hidupku. 

    Salam hangat, 

Cici









Sabtu, 31 Juli 2021

Malam Minggu Akhir Juli

Sabtu menuju Minggu.

Sabtu terakhir bulan Juli dipakai untuk bertemu Yuval Noah Harrari dan Slavoj Zizek, melalui buku dan chanel youtube. Juga menghitung segala jenis pengeluaran di tiap-tiap post, mendapati bahwa menyederhanakan hidup jauh lebih baik untuk menekan segala jenis pengeluaran.

Sabtu, 24 Juli 2021

Membicarakan Kehilangan

Yang pasti adalah kematian, kehilangan dan kepergian
Ditinggalkan atau meninggalkan adalah konsekuensinya
Kita yang ditinggalkan atau kita yang meninggalkan 
Entah selamanya atau sementara waktu
Dalam hitungan waktu yang masih bisa kita menerka kapan akan bertemu
Ataukah hitungan jarak yang masih bisa kita ukur kapan akan berpelukan
Ataukah memang kita ini hanya akan sejauh doa?

Kita menerka seberapa hancurnya kita jika perpisahan datang menghampiri
Kita menerka seberapa sakitnya kita jika perpisahan itu terjadi

Kita menerka bagaimana kita akan melalui perasaan dalam perpisahan itu
Sebanyak apa kita akan rindu?
Sebanyak apa kenangan kita yang akan muncul dalam perpisahan itu?
Seberapa sedih jika mengenang itu?

Namun, 
Perasaan, rindu, kenangan dan kesedihan tidak dapat diterjemahkan di dalam angka
Entah angka yang terbatas seperti kata
Ataukah angka begitu rumit menerjemahkan perasaan, rindu, kenangan dan kesedihan di dalam deretan angka?

Karena perasaan, rindu, kenangan dan kesedihan datang dari hati yang terdalam,  
dimana angka dan kalimat seberapa banyak itu tak mampu menjangkaunya. 

Aku memang tidak tahu akan seberapa banyak apa aku akan rindu
Aku memang tidak tahu akan seberapa banyak aku mengenang kamu

Aku tahu akan sepatah apa aku nanti
Aku tahu akan sehancur apa aku nanti

Karena  beberapa hal aku tahu, kutanyakan lagi pada hatiku?
Aku harus bagaimana?

Aku pun berlatih merespon kehilangan itu.
Jika hal itu datang, 
Aku yang ditingggalkan atau aku yang meninggalkan. 
Aku telah siap. 




Cici Ndiwa

Senin, 07 Juni 2021

Kepada apakah

huruf menjadi kata 
pada lisan dan tulisan 
menjadi kalimat 
yang berdengung di gendang telinga
dan di catatan-catatan kecil
yang menjadi suara dan menjadi cerita

mengapa kata diciptakan?
tanya sendu kepada sepi


Salam, Cici. 

Sabtu, 20 Maret 2021

Relasi yang Berharga

 

(Pantai pertama yang dikunjungi berdua, 07 Maret 2021)


Membicarakan tentang saya, mungkin akan sangat egois atau terlalu menuntut untuk dimanjakan dalam relasi ini.
Bukannya di dalam relasi ini kamu juga ada? Yah, kamu pun ada karena ini adalah relasi kita yang bagiku sangat berharga.
Bayangkan bahwa kita sengaja dipertemukan tahun 2020 untuk suatu tugas besar yang dipercayakan kepada kita sebagai satu tim yang isinya adalah kamu, aku dan Dia yang menjadi kepalanya. Dan saat kepala tim kita telah mengetahui bahwa kamu dan kamu sedang berada di dalam versi terbaik diri kita sendiri.
Yah, kita dipertemukan dan dengan sangat percaya diri saya berkata bahwa kita akan dipersatukan suatu hari nanti untuk mengerjakan tugas tersebut dalam kasihNya seumur hidup kita. 

Kita sungguh akan menjadi satu tim kan?
Membayangkan satu tim dengan kamu seumur hidup adalah hal yang sangat indah bagi saya. Doa-doa kita sedang berpotongan atau bertemu di satu titik dan mereka (doa kita) sedang saling mengonfirmasi intensi masing-masing. Lalu mereka (doa kita) kita berkata ''yah benar, semua list yang didoakan semuanya merujuk ke kamu, ayo  jalan-bersama-sama''
Dua manusia yang berbeda,dipertemukan dan kelak dipersatukan untuk suatu tugas. 

Aku pikir sebelum kita berdua secara pribadi saling mengenal, jiwa-jiwa kita sudah lebih dulu saling bertautan. Sehingga saat pertama kali bersua wajah, kita tanpa canggung bercerita. Seperti pernah bertemu sebelumnya, jiwa-jiwa kita telah saling menjalin dengan alam dan seolah-olah kedua jiwa kita sudah mengenal jutaan tahun lamanya.

Bagaikan kita telah dipersiapkan sejak lama untuk bertemu. 

Relasi ini berharga kan? Yah, karena kamu dan saya turut berproses di dalamnya dan ini adalah relasi kita. 

Saya mengasihi kamu dan tidak mau kamu sakiit, mungkin ini terlalu egois. Namun saya tidak mau sakit dan akan terus mengasihi kamu, sehingga itu tidak egois. 



Salam hangat, 

Cici


Rabu, 17 Maret 2021

Dengan Dirinya Sendiri


Ia berbicara

Ia mendengar

dan berkaca-kaca, matanya

Huruf-huruf dirangkainya menjadi kata

didengungkannya melambung ke langit-langit lidahnya

dan memantul keluar melewati bibirnya

pergi kepada telingannya sendiri

dan kembali dipantulkan oleh langit-langit lidahnya lagi

 

Ruteng, 2021. Cici Ndiwa

 

Ketika Subuh


Seorang gadis mendidihkan air

dan menyeduh kopi

memberinya sedikit gula

dan menemaninya dengan sepotong roti

menaruhnya di atas meja di samping laptop

tempat semua berkas lamaran kerja dan buku agenda tersusun dengan rapi

juga list segala tempat usaha, sekolah dan kantor-kantor

yang diberi tanda silang dan centang

yang lembarannya tertempel di tembok di samping laptop

Seorang gadis yang masih saja mengimpikan menjadi penyair

memindahkan segala kesederhanaan hidup ke dalam rumitnya cara berpikir manusia

dan rumitnya hidup kedalam kesederhanaan sebuah pemaknaan yang abstrak

untuk sebuah puisi yang tak kunjung ia selesaikan

 

Ruteng, 2021. Cici Ndiwa

 

 

 

Menua

 Menua

Bicaramu perlahan, terbata-bata dan menekan beberapa kata

Langkahmu mulai tertatih, kembali dilatih untuk merasai dingin lantai dengan telapak kaki

Rambutmu perlahan memutih, sehelai demi sehelai

Rambutku berganti warna beberapa kali

Ketika langkahmu memelan, aku semakin cepat melangkahkan kakiku seakan berlari

Mengejar waktu yang abstrak itu

Ketika engkau baru saja menekan dua kata

Aku telah memberi penegasan untuk semua kalimat

Yang keluar dari bibirku dalam sekali tarikan nafas

Saat engkau merasakan sesak di dadamu

Jantungku berdetak merasakan cinta

Bisakah engkau meminum obat-obatmu untuk ikut bersamaku

Bertumbuh dengan cinta yang baru?

 

Ruteng, 2021. Cici Ndiwa

 

Selasa, 19 Januari 2021

Sepatu Baru Berwarna Ungu

      

Setelah melalui pertimbangan yang cukup panjang dan berujung pada keputusan yang sangat masuk akal, saya akhirnya ke swalayan dan melihat-lihat sepatu yang cocok untuk saya. Sebenarnya ada sepasang sepatu yang telah saya incar sejak lama, bisa saja kan saya langsung ambil dan membayarnya di kasir. Namun, saya masih dengan sikap pilih-pilih saya ini. Beberapa kali saya mencoba pakai dan melihatnya di cermin toko, mencoba berjalan dengan mengenakan sepatu tersebut dan mengamatinya lama-lama di kaki saya. Saya bertanya pada bapak-bapak yang menjaga rak sepatu itu, mungkin ada warna lain. Rupanya itulah satu-satunya warna untuk model sepatu seperti itu. 

    Sambil menenteng sepatu itu, saya melihat sepatu yang lain yang terpajang di sana. Mencoba membandingkannya dari segi warna, model dan penerimaan saya  akan sepatu itu. Tetap saja, sepatu yang saya tenteng itu tidak tergantikan oleh sepatu lain yang dipajang di situ. Saya menitipkan sepatu tersebut di meja kasir dan berkata bahwa saya akan datang lagi untuk mengambil sepatu tersebut. 

    Saya pun beralih ke toko yang lain, tanpa takut sepatu tersebut diambil oleh orang karena saya telah menitipkannya di kasir. Saya mencari sepatu yang modelnya sama dengan sepatu ungu itu, berharap ada warna yang lain yang bisa saya pulang. Saya menunjukkan foto sepatu tersebut ke penjaga/pelayan toko untuk mengefektifkan waktu saya dalam mencari sepatu, beberapa sepatu yang terpajang di toko-toko itu saya test namun tak ada yang cocok di hati walau pas di kaki. 

    Saya kembali berjalan menuju toko pertama tempat sepatu ungu itu berada,  di perjalanan saya meyakinkan diri untuk memilih sepatu tersebut. 

    Bahannya sangat nyaman di kaki saya, bertali dan berwarna ungu. Modelnya sederhana dan cocok bagi saya yang menyukai hal-hal sederhana. 

    Sepatu baru saya itu berwarna ungu, diincar sejak dulu namun tetap dibanding-bandingkan dengan sepatu yang lainnya di berbagai toko. Tetap saya kembali kepada sepatu ungu yang nyaman itu. 

    Mungkin hal yang saya lakukan itu telah dilakukan juga oleh orang lain. Saat kita punya banyak pilihan, tentu saja kita bisa memilih-milih agar bisa mendapat satu atau dua yang bagi kita terbaik dari antara yang  lain. Kita memiliki standar untuk hal yang harus ada dalam hidup kita. Saya pikir, ketika kita telah memiliki standar untuk segala sesuatu di dalam hidup kita maka proses pilih memilih atau soal pertimbangan itu hanyalah cara kita untuk menguji standar yang ada pada hidup kita. 

    Bicara tentang standar yang kita miliki di dalam hidup adalah berbeda antara satu orang dengan orang yang lain. Seperti saat saya bertanya kepada beberapa teman tentang sepatu ungu tersebut, ada yang berkata bahwa sepatu itu keren untuk saya kenakan dan ada juga yang bilang bahwa warna sepatu itu tidak cocok untuk saya. Bahwa saya hanya sedang menguji apa yang sebelumnya telah saya pilih. 

    Begitulah, perjalanan saya memilih sepatu ungu itu. 

    Salam hangat, 


Cici Ndiwa

    

Kamis, 31 Desember 2020

Perempuan yang memesan Cappucino untuk dirinya sendiri di hari ulang tahunnya.

 



 


 Saya memilih merayakan ulang tahun saya dengan duduk di kafe seorang diri, memesan minuman dan makanan yang saya inginkan untuk merayakan hari ulang tahun saya. Hari ini mendung, hujan baru saja turun ketika pesanan saya tiba. Saya memilih duduk di tempat yang membuat pandangan saya tidak terhalangi dan memiliki tempat untuk mengecas laptop dan handphone jika diperlukan. 

Saya datang seorang diri, melihat kafe ramai oleh pengunjung yang datang bersama teman-temannya di penghujung tahun ini. Saya tanpa merasa risih tetap duduk seorang diri dan melakukan aktivitas yang nyaman tanpa mengganggu perhatian pengunjung lainnya. Lalu membuka blog pribadi untuk mulai bercerita secara jujur tanpa mengurai terlalu banyak hal personal, membalas chat teman dan keluarga yang mengucapkan selamat ulang tahun, membuka sebuah website dan melihat tulisan saya telah dipublish di sana, mengangkat telepon dari dua orang teman dan mengabadikan kenangan saat saya berada di kafe ini dan memuatnya di story whatsapp dan status facebook dengan sedikit basa-basi. 

Saya memesan Cappucino dan Smokey Corned BeeF & Mushroom untuk diri saya sebagai cara saya merayakan hari ulang tahun. Saya tidak memiliki janji untuk bertemu siapa-siapa hari ini, walau ada yang bilang akan turut merayakannya bersama namun tak saya masukan itu dalam list janji. Saya tidak ingin menaruh harapan sama siapa-siapa pada hari ini dan hari ke depan dalam hidup saya. Sebenarnya telah lama saya menanamkan itu dalam diri saya, bertumbuh dan berbuah. Terkadang manis, pahit bahkan kecut.  

Saya memesan Cappucino tanpa banyak memilih varian menu minuman lainnya, saya memesannya secangkir. Ditemani makanan yang cukup berat namun baik untuk dimakan siang ini. 

Saya bahagia namun tetap kalem saja merayakan hari ulang tahun ini. Walau sepi karena semua sibuk dengan urusannya masing-masing dengan dirinya sendiri ataupun dengan keluarga. Tidak enak jika saya menuntut agar mereka memberikan waktunya untuk ada bersama saya. 

Karena saat saya lahir, keluarga terdekat lha yang pertama kali melihat saya hadir di bumi maka saya selalu ingin berterima kasih kepada mereka di tiap hari dalam hidup saya. Walau sebagai anak dan sebagai anggota keluarga, saya ini sering kali menyakiti mereka dengan sikap saya yang cuek dan agak dingin dalam keluarga. Seringkali saya habiskan banyak waktu saya untuk bekerja di luar rumah, melakukan hobi, jalan dan duduk minum di kafe lalu mengurangi intenstitas komunikasi sebagai sesama anggota keluarga. Mungkin seperti itulah sehingga keluarga di sebut sebagai rumah, "tempat kita selalu pulang"

Memasuki bulan Desember, hampir semua keluarga ingat akan nama-nama anggota kelurga yang akan berulang tahun. Sambil menunggu peringatan kelahiran Yesus kami juga turut menunggu peringatan hari kelahiran kami. 

Awal bulan telah terpikirkan oleh saya untuk memesan kue ulang tahun yang besar dan membuat pesta perayaan ulang tahun yang ke-26. Namun tiga hari menjelang hari ulang tahun terlebih setelah saya membuat pertimbangan tentang rencana itu maka saya membatalkan itu tanpa sempat saya beritahukan rencana itu ke keluarga terdekat. Sehingga tak ada yang saya kecewakan. Kecuali kami akan mengadakan acara kecil-kecilan memperingati hari ulang tahun sambil menanti pergantian tahun dengan malam yang pastinya akan dihiasi dengan semerbak kembang api. 

Saya meneguk perlahan secangkir Cappucino, menambahkan sedikit gula dan ketenangan isi kepala. Hehehehe. Harum Cappucino yang hangat dan sangat memanjakan saya, membuat saya yang isi kepalanya ini sempat penuh malah terurai perlahan dan membuat saya tenang. Begitu juga dengan hati saya, dari saya yang agak kecewa dengan sesuatu hal pun perlahan tenang dan berdamai dengan perasaan itu.

 

Taburan cokelat dan busa lembut di atasnya sungguh memnajakan mata. Mengangkat cangkir perlahan menaruhnya di bibir saya dan mengangkat bagian belakang gelas sehingga minuman itu masuk dengan pelan juga ke dalam mulut saya tanpa harus mendongakan kepala. Walau harumnya yang lembut dan busa lembut plus cokelat yang memanjaan mata, tetap saja saya membutuhkan tambahan sedikit gula. 

Saya menghabiskan secangkir Cappucino sambil mencoba menguraikan hal yang ada dalam pikiran saya. Pertama, saya tidak bisa terus-terusan manja sama diri saya. Kedua, saya harus membuat budget/pos pengeluaran khusus ngopi di kafe atau makan di luar sendiri atau bersama teman. Ketiga, saya harus berhemat. Saya ingin memesan lagi secangkir Cappucino saat cangkir yang pertama habis lalu saya teringat bahwa saya perlu berhemat dan menahan segala keinginan saya.

Ternyata untuk berhemat butuh motivasi dan goals. Terpikirkan oleh saya bahwa saya ingin berhemat di tiap hari dalam hidup saya agar saya bisa menambahkan uang bulanan yang akan saya berikan kepada Bapa & Mama. 

Lalu saya sadari bahwa banyak hal yang saya lakukan selama ini hanya untuk membuat orang terdekat saya senang dan bahagia. Saya begitu khawatir jikalau orang terkasih merasa kecewa, sehingga saya cukup hati-hati mematuhi dan menjalankan aturan dan arahan yang diberikan untuk saya. Saya merasa otak dan langkah saya diatur untuk menjawab ''IYA'' dan saya merasa capeh untuk semua hal itu. Banyak hal-hal yang dibatasi hanya untuk saya saja selama ini atau saya yang sangat takut mengecewakan mereka. Saya teringat dengan wawancara Lady Gaga saat ditanyakan pesan dia untuk banyak orang dan dia menjawab '' Be True to Yourself'' .

Saya akan merekonstruksi beberapa hal dalam hidup saya, tentunya akan ada rekonstruksi besar-besaran tentang value saya, bagai mana saya menanggapi perasaan khawatir saya akan orang-orang terkasih, menata pikiran dan perasaan saya sehingga saya tak mudah cemas mengurus hal yang menuntut tanggung jawab saya. 

oOh ia, saya baru saja membuka hati lalu takut disakiti. Mungkin ini juga hal yang harus saya rekonstruksi.

 

Untuk segala basa-basi saya dengan diri sendiri saat meneguk secangkir Cappucino, saya ingin bilang ke diri 

           Selamat Ulang Tahun. Selamat Melalui Usia yang Baru, Cici. 26 Tahun Hanya Angka. 


Salam

Cici Ndiwa


(Kafe Kopi dari Hati, 31 Desember 2020)



Jumat, 27 November 2020

Prolog

Ia duduk memandangi tuts keyboard notebook melalui sela-sela jemari yang cat kukunya telah terkelupas. 

Memandangi cincin bermata putih yang melingkar manis di jari tangan kanannya. 

Juga guratan urat-urat dipunggung tangannya yang  sangat nampak. 

Ia memulai sebuah hal yang mungkin tidak berguna malam ini. 

Menghitung ruas-ruas seluruh jari tangan kiri dan kanan, bekas luka, tahi lalat dan urat-urat yang sangat nampak. 

Dihadapannya ada sebuah cermin berukuran kecil. 

Ia memandang wajahnya dengan perlahan. 

Ada sebuah tahi lalat di bawah bibirnya.

Ia tak begitu mempercayai mitos yang beredar tentang tahi lalat itu. 

Sesekali ia banyak bicara, terkadang diam saja dan ia tidak cerewet. 

Tahi lalat tidak harus dicari artinya cukup dipandangi saja dan ia tak akan malu. 

Ia teringat dengan tahi lalat seseorang dan tidak berani menebak di sisi mana tahi lalat itu berada. 

Cukup dengan membayangkan pemilik tahi lalat itu ia merasa tidak egois dalam relasi antar individu. 


Cici Ndiwa




Jumat, 02 Oktober 2020

Kenangan dan Sedikit Cerita Part 2

Dipertemukan oleh pekerjaan dan menjadi kaka, saudara-saudari & sahabat yang baik. Pekerjaan ini punya durasi/kontrak kerja, tapi untuk persaudaraan akan selalu ada sampai nanti. 

Foto 1 & 2: Dengan Kak Kristina Amur (Kak Kris). Akan ada juga foto kami (Ka Ris & Saya) saat panen wortel di kebun.


Foto 2 & 3; Foto setelah pleno DPHP di kantor camat Langke Rembong. 




Foto 4: Di kantor kelurahan Karot, malam menjelang pukl 00:00; ini yang otak aktif dan fisik su lemah. 


Foto 5: Makan puding cokelat enak siang-siang di kantor kelurahan Bangka Nekang.

Foto 6: Di Wae Lengkas dengan Kak Ata & Kak Nensy

Foto 7: Dengan Yuni setelah makan Mie Ayam. 

Terima kasih, masih banyak foto-foto bagus....

Selasa, 29 September 2020

Kenangan & Sedikit Cerita Part 1 2020

 Kafe jadi tempat saya & ka Elen bercerita tentang apa saja, dengar musik dan mamiri (makan minum ringan). Kami mulai sama-sama ke Kafe saat bulan Agustus 2020, di akhir bulan. Lalu secara rutin tiap minggu atau dua minggu sekali ke kafe untuk cerita. 







Walau sering berdua ke kafe, saya juga sering datang sendiri ke tempat ini. Minum teh, makan kentang goreng & memikirkan sesuatu yang memang saya prioritaskan untuk saya pikirkan di tempat ini. 

Di Liang Bua. Ini yang kesekian kalinya saya ke sini & masih ingin kembali lagi entah sendiri, dengan pacar atau pun dengan teman-teman. Saya merasa kurang referensi bacaan tentang situs ini. Semoga dalam perjalanan ke depan, saya menemukan bahan bacaan tentang Liang Bua.






Senin, 21 September 2020

Pluviophile; Penyuka Hujan (bagian 1)

 Sedikitnya, saya ini "pluviophile"

Zaman saya kecil, sepupu dan saya sangat menyukai hujan. Semua keseluruhan hujan yang muncul pagi, siang, sore atau malam dan juga jika hujan itu muncul sepanjang hari. Ada kenyamanan sekaligus kebebasan yang turut muncul bersamaan dengan deraian hujan. 

Saat hujan muncul di pagi hari di masa kecil, itu akan menjadi alasan agar bisa terlambat ke sekolah. Tidak perlu terburu-buru ke sekolah karena jika sampai di sekolah tak akan dimarahi oleh guru. Itu berlangsung sampai masa SMA, hujan membuat saya bisa lebih santai di pagi hari. Saya yang santai namun seisi rumah yang huru-hara karena saya belum bergegas ke sekolah.Hujan membuat aturan sekolah dilonggarkan. Walau banyak juga aturan saat sekolah yang sempat saya langgar entah itu musim hujan atau tidak. Seperti kewajiban memakai sepatu warna hitam ke sekolah saat SMA. Kami dapat mengenakan sepatu warna lain bahkan sendal jepit saat hujan. Berjalan di genangan air hujan masih menjadi favorit saya. 

Walau kami tahu kapan musim hujan akan muncul, kami kurang mempersiapkan untuk itu. Saat hujan muncul, barulah kami dengan segera membeli payung dan mengecek mantel hujan. Saya ingat saat masih kecil, usia Sekolah Dasar. Kami saling berbagi payung, sepayung tiga orang. Tentunya kami akan saling berebutan payung itu akan dipegang oleh siapa saat tiba di sekolah, keputusan untuk itu selalu kami dengar dari mama. Alasannya sangat masuk diakal kami,yang saat itu masih kecil entah ada di kelas siapa pun yang penting itu karena keputusan mama bukan kami. 

Jika hujan di jam kami pulang sekolah, maka mama akan menjemput. Membawa satu payung yang akan dipakai bersama dengan beliau dan uang jajan yang membuat kami tidak kelaparan siang itu karena bisa membeli jajan di kantin sekolah atau kios-kios sepanjang perjalanan pulang ke rumah. 

Saya suka aktivitas menunggu Mama atau keluarga lainnya saat pulang sekolah, saya suka menerka-nerka akan dijemput oleh siapa. Saya akan menunggu di depan kelas sambil menolak ajakan teman untuk pulang bersama mereka. Mama selalu jemput di waktu yang tempat. Sepanjang perjalanan kami akan bercerita tentang masakan yang ada di rumah, adik saya yang rewel, tamu yang datang ke rumah dan menanyakan tentang teman-teman saya. Seringkali saat seperti itu saya pakai untuk minta dibelikan jajan, tas, boneka, buku dan jam tangan juga minta uang jajan yang lebih untuk esok harinya. Karena saya tahu jika Mama memulai cerita, maka beliau tidak mudah marah jika saya mulai minta ini dan itu. Sempat saya minta untuk tidak dijemput saat awal kelas 6 SD, karena saya melihat tak ada satu pun teman saya yang dijemput oleh mamanya bahkan semenjak kami kelas 2 SD. Saya berpikir untuk mengikuti teman-teman saya, mempunyai kemerdekaannya sendiri dan memilih untuk mandiri dengan satu cara yakni tidak dijemput. 

Bagi Mama, saya harus tetap dijemput tiap pulang sekolah apalagi jika hujan. Satu hal yang menjadi ketakutan beliau adalah Ia takut saya diculik oleh orang. Pernah Ia tidak menjemput saya dan saya terlambat pulang ke rumah karena main di rumah teman. Ternyata ia mencari saya di sekolah, menanyakan saya ke orang-orang di sekitar sekolah, ke orang tua dari teman saya dan terakhir ia menemukan saya sedang main masak di halaman belakang rumah seorang teman akrab saya. Saya merasa saat itulah ia mulai memberikan kelonggaran tanpa langsung berkata 'IA" atau langsung "menyetujui" saat saya minta. 

Sejak hari itu ia memberi kelonggaran baru bagi saya. Kelonggaran dengan sebuah catatan yakni "harus jujur" saya bermain dengan siapa dan dimana. Intinya, kejujuran. Sampai saat ini, soal kejujuran dengan Mama saya memilah itu; yang bisa diberitahu ke Mama dan yang menjadi privasi untuk Cici. 

Oh ya, saya lupa menerka berapa jumlah teman lelaki saya yang pernah diancam oleh Mama karena mengganggu saya. 


Kembali tentang hujan. Saya menyukai hujan yang datang tanpa petir. 


Salam


Cici Ndiwa

Sabtu, 19 September 2020

Sedikitnya Tentang Mengenali Emosi


Memesan secangkir susu cokelat hangat yang diminum perlahan hampir sejam sambil mengurai pemikiran dan perasaan yang menumpuk di kepala dan hati. 

Mungkin punya banyak pemikiran akan lebih baik jika diri ini mampu mengurai. Begitu juga dengan perasaaan, merasai ini dan itu lebih baik dari pada mati rasa. 

Terkadang dengan segala kesoktahuan saya yang sempat berpikir bahwa dewasa itu datangnya dari usia, saya berpikir bisa mengendalikan perasaan. Ternyata belum sama sekali. Usia bukanlah patokan, dengan mudah tersulutnya emosi saya adalah contohnya. 

Lebih gampang bicara tentang mengendalikan perasaan dari pada mengatur diri saat perasaaan-perasaaan itu muncul. Baik jika perasaaan indah yang muncul, bagaimana jika saat itu kita sedang bad mood dan kita berada disekeliling orang-orang. 

Saya ingin mengurai tentang bad mood saya. Mungkin dengan menuliskannya akan lebih membuat saya menyadari itu. Mood saya berubah-ubah dalam waktu singkat. Bisa buruk, tenang dan baik. Kadang begitu menyukai satu hal dengan sangat lalu dalam waktu sepersekian jam akan tidak menyukai. Satu ketakutan saya, hal ini (bad mood) akan membawa saya ke dalam perasaaan yang lebih tinggi dengan tingkat melukai perasaan orang yang teramat parah (saya menkhayali ini, semoga bisa teratasi)

Beberapa teman yang saya kenal, mood mereka sering berubah-ubah karena sedang PMS. Maka berbeda dengan yang saya alami, pms tidak begiitu mempengaruhi. 

Saya menyadari latar belakang perubahan mood saya, karena saya hidup dengan mood seperti itu bertahun-tahun. Saya mengenalinya, mood saya tba-tiba berubah jika terlintas atau teringat hal buruk yang terjadi di masa lalu dalam hidup saya. 

Hal-hal yang terjadi di masa kecil saya lebih banyak mempengaruhi dan setelah itu diikuti dengan pengalaman kurang menyenangkan di masa umur 20 an yang lebih banyak dipengaruhi oleh relasi saya. 

Ketika menyadari bahwa pengalaman di masa kecil itulah menjadi penyumbang terbesar bagi mood saya yang berubah dan emosi saya yang kuirang kendali, maka saya memutuskan untuk belajar tenang dengan mengolah perasaan yang timbul saat ingatan itu muncul. 

Saya ingat, satu per satu kenangan buruk muncul dalam hidup saya. Saya seperti dibawa kembali ke masa itu, menyadari kalau dulu saya lemah dan mudah dipengaruhi. Menyadari kalau dulu saya tidak berusaha untuk membuang halk itu dari ingatan saya. Saya simpan itu bertahun-tahun, lalu hal buruk itu muncul dan mempengaruhi berbagai perasaaan. 

Saya sering terbangun dengan kaget saat malam, lalu tidak tidur kembali. Sering juga saat hendak terlelap hal itu muncul, saya langsung terjaga buka mata cepat-cepat dan rasa kantuk saya hilang. Saya merasa kenangan buruk itu seperti monster. Beberapa kali saya enggan tidur malam karena takut bermimpi ketemu monster. Hal seperti ini memang menyusahkan saya. Lebih sulit bagi saya jika hal seperti itu menyusahkan orang lain. 

Menyadari perubahan mood saya lebih sering dipengaruhi hal buruk, maka saya sangat berhati-hati saat berelasi dengan sesama keluarga maupun teman-teman. Yang ada dalam pikiran saya saat berelasi hanyalah meminimilisir mereka tersakiti oleh perubahan mood saya. 

Semua manusia mempunyai emosinya masing-masing, semoga dengan mengetahui hal itu saya dan kamu lebih bisa untuk tidak egois. Lebih berusaha untuk mengenali perasaan itu dan mengendalikannya agar tidak melukai perasaan dan fisik orang. 

Salam 

Cici Ndiwa


Note: Malam Minggu di torush kafe

Senin, 25 Mei 2020

(Tak ada judul)

Kamu di sana...
Aku sibuk menerka-nerka bagai mana hatimu merasa dan bagai mana kamu berpikir. 

Mungkin malam ini kamu juga terjaga, mengenang hal-hal yang lalu yang kini terbawa malam. 
Atau kamu sedang merangkai impianmu & berkhayal apa saja tentang esok atau nanti. 
Dari balik hatiku yang keras, untuk mengaminkan doamu dan membantu jalanmu aku sungguh-sungguh kuat. 
Kau harus lebih kuat dariku, harus lebih banyak bicara & berani. Aku yang percaya, bahwa kau terlahir untuk tidak pernah takut akan apa pun. 

Terkadang aku yang khawatir. 
Pikiran memakan tubuhku dan aku berbicara sendiri dengan pikiranku. 

Untuk hari-hari berikutnya...
Mungkin hati ini tetap keras dan aku janji, kau tak akan aku sakiti. 

Salam. 

Cici.

Note; Kau akan selalu baik-baik saja. 

Jumat, 01 Mei 2020

Terima Kasih, April

April tahun ini baru saja selesai, saya pun kembali mengingat apa saja yang telah terjadi selama saya menjalani tiga puluh hari dalam bulan April yang telah lewat. Tidak terlalu susah mengingat karena saya dibantu oleh catatan sederhana di buku kecil dan saya melakukan beberapa hal itu sebagai rutinitas harian. Sehingga bisa membantu daya ingat saya.

Mencatat Pokok – Pokok Doa
Ini telah menjadi kebiasaan sejak tahun 2019. Tiap awal bulan, saya menuliskan itu menjadi beberapa poin. Beberapa hal menjadi permintaan dan beberapa yang lain menjadi bentuk syukur.
Ada yang menjadi ujud jangka panjang, jangka menengah dan jangka pendek. Bagi saya, dengan
menuliskannya itu membuat saya semakin tekun dalam tiap pengharapan. Terkadang saya masih
sering lupa mendoakan itu: seringkali didoakan menjadi ujud umum. Inilah yang saya sadari kalau tiap melanggar janji ke diri sendiri yang saya buat adalah bersembunyi dalam pemikiran “itu sangat manusiawi” (yah..langsung cubit pipi). Bersyukurnya saya cepat menyadari kalau itu kurang baik, maka esok tak boleh begitu lagi.
Jadi saya mengganti jam doa dari berdoa sesaat sebelum tidur kini berdoa saat malam di jam tak
ngantuk dan pemikiran saya masih segar.

Hanya Dua Kali Makan Batagor – Jajan Kesukaan 
Ini menjadi pencapaian untuk saya yang hobi jajan ini. Tiap kali suka sama satu makanan pasti akan
makan itu terus menerus, lidah ini memang sangat susah mengakrabi rasa. Pas lidah mencecap rasa
batagor malah jadi kecanduan untuk terus memakannya.  Di bulan sebelumnya, biasanya jajan batagor bisa empat kali dalam seminggu dengan begitu bisa 16 kali saya ke tempat batagor untuk memakan jajan kesukaan saya itu. Terkadang itu jadi tempat singgah saat kepertokoan dan sering jadi tempat tujuan dari rumah.  Saat memasuki April, saya mencoba dengan sekuat daya tahan saya untuk mengurangi memakan jajan kesukaan saya itu. Beberapa hal lucu yang saya ingat pernah saya lakukan yakni mencari jalan lain saat hendak ke pertokoan karena keinginan jajan bisa muncul dari mata, selalu makan dan minum pokoknya memastikan perut terisi biar tidak dadakan lapar saat lewat di tempat jajan kesukaan, beberapa kali gagal dan saya pun beli dengan jumlah uang yang sedikit dan minta dipotong kecil yah saya kunyah dengan lama, kemudian saya menemukan pola pikir baru tentang alasan saya tidak boleh jajan. Yah menemukan pemikiran yang bisa mencegah langkah saya adalah hal yang tepat. Saya bisa dengan mudah untuk tidak melakukan sesuatu kalau saya telah menemukan alasan yang memang datang dari dalam diri. Memutuskan untuk tidak jajan batagor bukanlah keputusan yang sederhana. Sebagai seorang yang sangat suka memikirkan plan A, B, C, D dst hal tersebut bukan menjadi masalah. Berikutnya saya akan mencoba untuk sama sekali tidak jajan batagor. Sedikit demi sedikit uang jajan bisa dipakai untuk membeli bibit tanaman dan itulah yang saya lakukan.

Menonton Drama Korea
Dikarenakan jarang dilakukan sehingga saat sekali atau dua kali dilakukan maka punya keinginan
untuk menulis seperti saat ini. Yah, tiap orang akan menonton drama Korea pada saatnya. Saya
menonton VIP sampai selesai dan The World of the Married. Saya menonton hanya tiap Jumat, Sabtu
dan Minggu. Itu berlangsung selama dua pekan di bulan April. Awalnya dimulai dari penasaran lalu
mencoba lirik saja dan menyukai pemeran perempuannya berakting dan segala percakapannya. Itu terjadi saat saya menonton kedua film tersebut. Saya jadi kecanduan dan tetap menonton ikut aturan hari.

Mengirim Tulisan
Saya merasa cukup produktif dalammemanfaatkan waktu malam untuk menyelesaikan tulisan. Telah
saya kirimkan untuk beberapa keperluan saat menjelang deadline.
Seperti biasa, saat telah menyelesaikannya saya pun memberi waktu santai yang banyak untuk diri.
Karena menyelesaikan puisi tidak bisa setengah-tengah, ini sangat subyektif.

Menanam Sayur
Saya melanjutkan hobi yang sejak kecil saya lakukan, yakni menanam. Kalau saat kecil saya suka menanam bawang putih dan bawang merah untuk diambil daunnya, sekarang saya menanam
beraneka sayuran dengan persiapan yang cukup baik. Tentu saja saya sambil belajar. Saya belajar
dari youtube.
Beberapa sayur sedang dalam masa persemaian, beberapa yang lain telah tumbuh dengan hijau di
toples-toples plastik bekas.
Saya memanfaatkan barang-barang plastik yang rusak lalu saya perbaiki agar cocok dijadikan media tanam.
Beberapa benih saya semaikan di kardus bekas. Tiap pagi sehabis mandi saya suka mengecek dan
merawat tanaman saya dengan baik. Semakin sering saya lihat maka semakin terasa tumbuhnya
yang melambat. Tapi benih-benih itu terus tumbuh menjadi bentuk terbaiknya.
Untuk pupuknya, saya belajar dari youtube dan menyiapkannya sendiri untuk tanaman-tanaman 
saya. Tentu saja mencampurkannya dengan tangan sendiri. Ini masih akan terus berlanjut.. 

Terima kasih untuk tiga puluh hari dalam bulanmu, April. 

Ruteng, 1 Mei 2020. 


Cici

Selasa, 07 April 2020

Tentang menukar nomor antrean


Kita menunggu sebuah giliran setelah mengambil nomor antrean..
Melirik sekeliling, menghitung jumlah orang dan melihat nomor kita ..
Jika saja kita datang lebih awal, kita akan mendapat nomor antrean yang lebih muda
sehingga tidak terlalu lama menunggu..
Jika semua datang lebih awal, siapakah yang berdiri di depan pintu ruangan sembari menunggu dibuka agar cepat
mengambil nomor termuda? Bisa saja kamu, saya dan semua memiliki kemungkinan untuk itu.

Kita mulai menghitung, satu per satu orang keluar dari ruangan
Kita sedikit legah, berpikir kalau petugas akan semakin dekat memanggil nomor kita
dan melewatkan yang tak ada di ruangan
Orang itu datang lagi, menanyai nomor antrian kita dan memberikan nomornya untuk kita
Nomornya lebih muda dan kita mendapatkan itu

Dengan sedikit canggung kita menerima
Kita tak lagi harus menunggu lama,
Di tangan masih ada dua nomor antrian
yang berarti nomor kita menjadi nomor yang lebih muda
bagi pengunjung yang baru datang
dan kita memberikan itu kepada pengunjung yang baru datang


Salam hangat,

Cici Ndiwa

Senin, 06 April 2020

Buku harian & hal tidak remeh

Kemarin saat membersihkan lemari buku, saya menemukan begitu banyak buku cantik dan unik yang adalah buku harian saya. Saya menyimpannya diantara buku-buku kuliah dan jurnal yang telah saya baca. Lemari dan segala isi
di dalamnya memang tidak menarik dan saya menyukai itu karena mengurangi ketertarikan orang rumah dan saya untuk melihat isinya. Tentu saja lemarinya tidak dikunci, beberapa kali kuncinya hilang dan daya mengingat saya untuk barang-barang sekecil itu (walau penting) kadang tidak terlalu bagus. 

Saya mengeluarkannya dengan perlahan dari antara barang yang menghimpitnya agar lembarannya tidak robek. Saya menaruhnya di atas lantai sambil membersihkan debu yang ada, menaruhnya sesuai urutan tahun. Walau
ada sobek dan banyak coretan di sampul luar, buku harian tertua datang dari tahun 2008. Berurutan sampai yang paling muda lahir pada tahun 2018. Itu yang murni isinya catatan harian, kalau untuk buku yang tetap saya namai catatan harian namun berisikan begitu banyak rangkuman dan catatan tentang pekerjaan itu ada pada tahun 2019. Untuk 2020, saya punya beberapa buku yang catatannya tidak terlalu privasi, tahun ini lebih banyak menulis salinan doa & renungan bacaan.

Membaca kembali buku-buku harian itu, membuat saya kembali mengenang perjalanan di tahun-tahun lalu. Sambil mengapresiasi diri dengan kalimat yang menenangkan dan memotivasi, terkadang diiringi beberapa tanya tentang beberapa hal yang kali ini tidak saya ingat, tapi dulu saya pernah menjalaninya.

Buku-buku harian saya kurang bersih dari membicarakan nama orang dan saya inisialkan itu. Beberapa inisial saya ingat, beberapa lainnya tidak saya ingat. Kini, saya jadi lebih mantap memilih lembaran yang akan saya robek dan bakar.

Saya menulis segala impian besar saya, tentu saja dengan plan b & c yang turut mengikuti. Sejauh ini, saya merasa sedang melangkah menuju hal itu.

Sungguh begitu optimis kan? Iya, sungguh.

Kalau impian besar saya telah terwujud, bagaimana saya akan jalani hidup? Impian itu dengan sendirinya akan menghadirkan impian lainnya dan saya tetap optimis untuk hal itu.

Karena menulis impian di lembaran awal buku harian, itu membuat saya harus menulisnya dengan sangat baik. Saya yang dulu, sungguh memikirkan itu dengan matang lalu menuliskannya. Walau saya menuliskan dengan baik, seakan tiap jengkal langkah saya telah saya rencanakan; saya tetap menyukai segala hal-hal tidak terduga yang terjadi di hari-hari dalam hidup.

Saya sempat berpikir kalau satu hal yang saya impikan akan susah saya wujudkan, karena saya
merasa ada di jalur yang berlainan namun suatu yang bernama “benang merah” mampu membuat saya kembali perlahan di jalan menuju impian itu. Saya pemimpi? Saya bahkan tidak pernah memikirkan bagai mana orang memikirkan hal itu.

Impian tidak hanya tertulis di buku harian, ia ada di langkah dan segala pemikiran. Saya mengibaratkan hidup ini adalah sebuah project besar, yang saya buat adalah merancangkan itu dalam sebentuk proposal. Saya berikan itu
pada Pencipta, dimasa-masa ia sedang membaca dan menyiapkan dana untuk hal yang saya tulis dalam proposal itu, saya tetap menjalani sebagaimana saya ingin jalani hari-hari saya.

Saya percaya, yang saya jalani telah ada dalam
rancangannya, Pencipta sedang mencocokan itu untuk saya. Selagi menunggu itu, IA tetap memberikan banyak berkat untuk saya.

Salam hangat,

Cici
 


Setahun Berdua

                                                  " Selamat merayakan setahun berdua dalam relasi pacaran ini, *ian dan Cici.      Tida...