Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 17 Maret 2021

Dengan Dirinya Sendiri


Ia berbicara

Ia mendengar

dan berkaca-kaca, matanya

Huruf-huruf dirangkainya menjadi kata

didengungkannya melambung ke langit-langit lidahnya

dan memantul keluar melewati bibirnya

pergi kepada telingannya sendiri

dan kembali dipantulkan oleh langit-langit lidahnya lagi

 

Ruteng, 2021. Cici Ndiwa

 

Ketika Subuh


Seorang gadis mendidihkan air

dan menyeduh kopi

memberinya sedikit gula

dan menemaninya dengan sepotong roti

menaruhnya di atas meja di samping laptop

tempat semua berkas lamaran kerja dan buku agenda tersusun dengan rapi

juga list segala tempat usaha, sekolah dan kantor-kantor

yang diberi tanda silang dan centang

yang lembarannya tertempel di tembok di samping laptop

Seorang gadis yang masih saja mengimpikan menjadi penyair

memindahkan segala kesederhanaan hidup ke dalam rumitnya cara berpikir manusia

dan rumitnya hidup kedalam kesederhanaan sebuah pemaknaan yang abstrak

untuk sebuah puisi yang tak kunjung ia selesaikan

 

Ruteng, 2021. Cici Ndiwa

 

 

 

Menua

 Menua

Bicaramu perlahan, terbata-bata dan menekan beberapa kata

Langkahmu mulai tertatih, kembali dilatih untuk merasai dingin lantai dengan telapak kaki

Rambutmu perlahan memutih, sehelai demi sehelai

Rambutku berganti warna beberapa kali

Ketika langkahmu memelan, aku semakin cepat melangkahkan kakiku seakan berlari

Mengejar waktu yang abstrak itu

Ketika engkau baru saja menekan dua kata

Aku telah memberi penegasan untuk semua kalimat

Yang keluar dari bibirku dalam sekali tarikan nafas

Saat engkau merasakan sesak di dadamu

Jantungku berdetak merasakan cinta

Bisakah engkau meminum obat-obatmu untuk ikut bersamaku

Bertumbuh dengan cinta yang baru?

 

Ruteng, 2021. Cici Ndiwa

 

Setahun Berdua

                                                  " Selamat merayakan setahun berdua dalam relasi pacaran ini, *ian dan Cici.      Tida...